Bukan siapa-siapa

Maaf, tak ada lagi celah untukmu [sebuah ungkapan kecewa terdalam]



Katanya, memaafkan itu berarti memberi ruang untuk rasa benci.
Tapi maaf, aku tak akan lagi memberikan ruang, jangankan ruang, sedikit celah pun tak kan ku biar terbuka.
Untuk apa? Itu percuma! Endingnya udah ketahuan.
Ketika aku mulai memberi sedikit celah, kamu dengan mudah membuat celah itu semakin besar, hingga menciptakan ruang yang besar, menganga, sulit untuk ditutup lagi, kecuali dengan rasa kecewaku pada mu.
Kamu mudah mengusik kehidupan orang, kamu mudah menghakimi orang, kamu mudah membuat orang percaya bahwa kamulah korbannya, dan akulah yang selalu jahat. Kamu memang hebat!
Kamu menganggap dirimu sempurna dengan segala pemikiranmu. Menganggap remeh orang yang berbeda denganmu. Membuat orang lain selalu ingin minta maaf padamu.
Tapi pernahkah kamu merasa bersalah sedikit saja?
Berniat untuk meminta maaf atas segala kesalahpamahan yang kamu ciptakan sendiri?
Meminta maaf karena selalu menyebut orang lain jahat?
Meminta maaf karena selalu menghakimi orang lain dengan pikiran dan lisanmu yang aduhai.
Bukan, bukan itu maksudku.
Minta maaflah untuk dirimu sendiri yang selalu merasa diri benar, berhentilah mengoreksi setiap detail perbedaan orang lain dengan dirimu.
Berhentilah membuat orang lain terlihat buruk.
Berhentilah!
Sungguh aku muak. Bahkan aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi memberi sedikit celahpun untuk orang sepertimu berada dalam kehidupanku. Mencoba mencuri peranku untuk diriku sendiri.
Berhentilah menjadi orang yang sempurna!
Kesempurnaan itu bukanlah milikmu, tapi milik penciptamu!
Maaf, tak ada lagi celah untukmu!

No comments:

Post a Comment